Niat menolong yang empatik tidak dimulai dengan mengambil alih, melainkan dengan berusaha memahami apa yang sedang dialami orang lain dan bertanya bantuan seperti apa yang mereka inginkan. Itulah sudut BAIM88 dalam membahas empati: bantuan boleh ditawarkan, sementara keputusan tetap berada pada orang yang dibantu.
Memahami perasaan bukan berarti tahu semua kebutuhannya
Empati mencakup upaya memahami atau merasakan pengalaman orang lain dari sudut pandang mereka, melalui proses sosial, kognitif, dan emosional. Empati kognitif berkaitan dengan memahami perasaan dan pikiran seseorang; empati emosional dengan berbagi perasaan; sedangkan empati welas asih mendorong tindakan untuk membantu sebisa mungkin [1].
Ketiganya membantu menjelaskan mengapa niat baik saja belum cukup. Kita mungkin memahami bahwa seseorang sedang kesulitan, tetapi belum tentu tahu bantuan apa yang mereka perlukan. Menawarkan solusi sebelum mendengar kebutuhan bisa membuat bantuan terasa seperti keputusan yang dibuat untuk mereka, bukan bersama mereka.
Dengarkan dulu, lalu tanyakan apa yang diinginkan
Mendengarkan bukan sekadar menunggu giliran bicara. Dalam percakapan, cobalah menangkap apa yang sedang disampaikan tanpa buru-buru menilai atau menyimpulkan. Setelah itu, tanyakan kebutuhan orang tersebut secara langsung dan beri ruang untuk menjawab.
Sebagai contoh hipotetis, seseorang bercerita bahwa ia sedang kewalahan. Alih-alih langsung mengatur langkah berikutnya, kamu bisa bertanya, "Kamu ingin aku mendengarkan dulu, membantu memilah pilihan, atau memberi waktu untuk sendiri?" Pertanyaan itu bukan rumus untuk setiap keadaan; fungsinya membuka beberapa kemungkinan tanpa menganggap satu pilihan pasti cocok.
Tawarkan bantuan sebagai pilihan, bukan keputusan jadi
Tawaran yang jelas lebih mudah dipertimbangkan daripada janji umum seperti "bilang saja kalau butuh apa-apa". Sebutkan bantuan yang memang sanggup kamu berikan, lalu biarkan orang tersebut menentukan apakah itu sesuai. Misalnya, "Aku bisa menemani kamu mengurus hal ini, kalau kamu mau."
Jika jawabannya tidak, belum tahu, atau berbeda dari yang kamu harapkan, hormati jawabannya. Empati welas asih memang berkaitan dengan dorongan untuk membantu, tetapi dorongan itu tidak harus berubah menjadi tindakan tanpa persetujuan. Menawarkan bantuan memberi pilihan; mengambil alih justru menghapus pilihan itu.
Jaga perhatian pada orang lain dan reaksi diri sendiri
Empati juga mencakup sisi afektif, termasuk personal distress: reaksi diri ketika melihat penderitaan orang lain, seperti cemas, khawatir, takut, atau merasa tidak berdaya [1]. Mengenali reaksi tersebut dapat menjadi pengingat untuk berhenti sejenak sebelum bertindak. Jangan sampai kebutuhan untuk segera meredakan kecemasan sendiri menentukan bantuan yang diberikan.
Menolong dengan empati bukan soal menemukan kalimat sempurna. Intinya adalah memahami sebisanya, bertanya sebelum bertindak, dan menerima bahwa orang lain berhak menentukan bantuan yang mereka inginkan—termasuk menolaknya.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Empati. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29814798&title=Empati (diakses 2026-10-02).